Ibu Raden Ajeng Kartini tentu bukan dari Padang. Saya justru ingin mengemukakan fenomena tentang Minang Perantauan.
Kini banyak desa-desa di Minang yang asri dan tampak berkecukupan, tetapi sepi hanya ditinggali oleh Orang-orang Tua dan beberapa Gadis. Tak banyak terlihat Pemuda di sana.
Pemuda Minang terkenal sebagai Perantau dan mereka hanya pulang (jika ada duit) pada saat menjelang Lebaran. Banyak dari Pemuda Perantau Minang tersebut yang pada akhirnya menetap di Perantauan dan memperistri warga setempat (non-Minang).
Mengapa mereka memperistri warga setempat, mungkin karena Cinta Lokasi (Cinlok), tetapi saya menduganya karena tinggal di perantauan lebih nyaman. Jika mereka kembali ke Minang dan memperistri gadis Minang, maka adat istiadat seperti Matrilineal atau Matriachat akan diberlakukan.
Hal yang sama terjadi pada perantauan gadis Jepang yang studi di Amerika Serikat. Banyak dari mereka menikah dengan warga non-Jepang dan akhirnya menetap di luar Jepang. Mereka tidak membawa suaminya ke Jepang, karena Jepang enggan dengan Kawin Campur dan UU tidak mendukungnya. Tidak lebih dari 10000 Kawin Campur/Tahun terjadi di Jepang.
Kecuali di Minang maka di tempat lain di Indonesia menganut Patrilineal atau Patriachat.
Perempuan di Indonesia boleh dikatakan setara dengan kaum pria setidak-tidaknya di mata hukum dan telah berlangsung sejak lama setidak-tidaknya sejak ada Ibu Kartini.
Pemilu kita yang pertama pada tahun 1955 telah menyertakan Perempuan sebagai pemilih. Sedangkan di Amerika Serikat (US) bahkan setelah puluhan kali Pemilu, perempuan masih belum dapat memilih.
Di Jepang adat istiadatnya menganggap perempuan itu warga kelas dua, bahkan banyak istri yang ketika pergi bersama suaminya jalan di belakang suaminya.
Indonesia juga lebih baik dalam hal Pembauran dimana walaupun belum disukai, tetapi setidak-tidaknya penentangan itu adalah penentangan yang saya nilai ringan (mild).
Tampilkan postingan dengan label UU Perkawinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UU Perkawinan. Tampilkan semua postingan
Senin, 20 April 2009
Minggu, 19 April 2009
Pembaruan dan Pembauran
Saya agak kaget ketika saya mengetikan kata kunci 'Pembauran' pada Goggle dan mendapat pesan mungkin maksud anda adalah 'Pembaruan'. Jadi bahkan Googlepun tidak dapat membedakan antara 'Pembauran' dengan 'Pembaruan'. Untungnya saat ini Google telah dapat membedakannya dan tidak menganggap hal tersebut sebagai misspelling.
Kata Pembauran bagi kita mungkin sudah familiar, tetapi pelaksanaannya masih setengah hati. Walaupun mungkin tidak berani mencela, tetapi mereka mungkin enggan atau bahkan tidak setuju ketika dirinya atau anaknya akan menikah dengan insan yang berbeda etnis maupun agama.
Titi Kamal yang menikah dengan Christian Sugionopun dimana mereka berbeda agama tampaknya masyarakat tidak terlalu antusias menyambutnya. Bahkan UU Perkawinan NKRI juga tidak mefasilitasinya atau boleh saya katakan ketinggalan zaman (out of date). Maaf, kalau saya keliru.
Tetapi saya yakin seperti halnya Google yang sekarang telah melek kata 'Pembauran', maka di masa yang akan datang Pembauran Sejati akan terwujud.
Silakan menyatakan ketidaksetujuan anda pada blog ini atau langsung kepada:
gsarwa@indosat.net.id
Kata Pembauran bagi kita mungkin sudah familiar, tetapi pelaksanaannya masih setengah hati. Walaupun mungkin tidak berani mencela, tetapi mereka mungkin enggan atau bahkan tidak setuju ketika dirinya atau anaknya akan menikah dengan insan yang berbeda etnis maupun agama.
Titi Kamal yang menikah dengan Christian Sugionopun dimana mereka berbeda agama tampaknya masyarakat tidak terlalu antusias menyambutnya. Bahkan UU Perkawinan NKRI juga tidak mefasilitasinya atau boleh saya katakan ketinggalan zaman (out of date). Maaf, kalau saya keliru.
Tetapi saya yakin seperti halnya Google yang sekarang telah melek kata 'Pembauran', maka di masa yang akan datang Pembauran Sejati akan terwujud.
Silakan menyatakan ketidaksetujuan anda pada blog ini atau langsung kepada:
gsarwa@indosat.net.id
Selasa, 23 Desember 2008
GSM vs CDMA
Manakah yang lebih hebat antara GSM vs CDMA?
Yang pasti GSM lebih populer dan lebih menyebar di Indonesia, karena terbit duluan.
Padahal CDMA secara teknis lebih unggul daripada GSM, karena platform CDMA adalah Code jadi dengan mudah masih dapat dikembangkan lebih lanjut.
Lalu apa hubungannya dengan Pembauran?
GSM dan CDMA sekarang 'bersekutu'. GSM dapat jalan pada platform CDMA. Ini disebut Konvergensi.
Apakah Pembauran akan menuju Konvergensi pula?
Tidak dapat diramalkan arah Pembauran apakah Konvergensi atau Divergensi, karena masalah Kawin Campur adalah masalah selera dan jodoh.
Bagaimana menurut anda?
Kirimkan perkiraan/prediksi anda ke: gsarwa@indosat.net.id
Yang pasti GSM lebih populer dan lebih menyebar di Indonesia, karena terbit duluan.
Padahal CDMA secara teknis lebih unggul daripada GSM, karena platform CDMA adalah Code jadi dengan mudah masih dapat dikembangkan lebih lanjut.
Lalu apa hubungannya dengan Pembauran?
GSM dan CDMA sekarang 'bersekutu'. GSM dapat jalan pada platform CDMA. Ini disebut Konvergensi.
Apakah Pembauran akan menuju Konvergensi pula?
Tidak dapat diramalkan arah Pembauran apakah Konvergensi atau Divergensi, karena masalah Kawin Campur adalah masalah selera dan jodoh.
Bagaimana menurut anda?
Kirimkan perkiraan/prediksi anda ke: gsarwa@indosat.net.id
Langganan:
Postingan (Atom)